Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menjalankan Shaum Ramadhan

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menjalankan
Shaum Ramadhan

Beberapa hal yang seyogyanya diperhatikan
oleh orang yang bershaum Di sini kami nukil secara ringkas, dengan disertai sedikit
tambahan dan takhrij ringkas beberapa haditsnya.

1. Mengenal hukum-hukum shaum
Banyak kaum Muslimin yang memasuki bulan shaum ini tanpa bekal ilmu tentang
puasa sama sekali. Celakanya, mereka juga tak begitu merasa perlu untuk belajar.
Padahal Allah Swt berfirman:

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan [828] jika kamu tidak mengetahui", (An-Nahl: 43)
[828] YA'NI: ORANG-ORANG YANG MEMPUNYAI PENGETAHUAN TENTANG NABI DAN KITAB-KITAB.

2. Menyambut puasa dengan hura-hura, bukan dengan banyak berdzikir, beristigfar
dan mensyukuri nikmat Allah. Klimaksnya, bulan yang penuh berkah ini tidaklah
menggiring mereka untuk semakin bertakwa; tapi sebaliknya, semakin terbuai
seribu satu kemaksiatan.

3. Sebagian kaum Muslimin, memasuki bulan Ramadhan dengan gambaran lahir
seperti orang-orang yang bertaubat. Mereka shalat, bershaum dan meninggalkan
banyak kemaksiatan yang biasa dilakukan.
Namun seusai bulan puasa, mereka kembali menjadi pecinta kemaksiatan. Seolah-
olah, mereka hanya mengenal Allah di bulan nan suci ini. Atau mungkin mereka
hanya memandang ibadah di bulan ini sebagai satu tradisi. Nabi bersabda:


"Barangsiapa yang beribadah hanya untuk didengar orang, maka Allah
pun akan memberi ganjaran dengan sekedar (ibadah itu) didengar orang.
Barangsiapa yang beribadah untuk sekedar dilihat orang, demikian juga
Allah akan memberinya ganjaran." ( dengan lafadz ini dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Ibnu Abbas (2986). Juga dari hadits Jundub dengan lafadz yang berbeda (6123). Al-Bukhari juga meriwayatkannya dalam kitab: Ar-Raqaiq (6134)


4. Ada juga sebagian kaum Muslimin yang beranggapan bahwa bulan Ramadhan ini
cocok dijadikan waktu untuk beristirahat, tidur-tiduran dan bermalas-malasan di
siang hari, lalu begadang di malam hari. Bahkan seringkali, begadang malam
itu dibumbui dengan hal-hal yang dapat mengundang kemurkaan Allah. Dengan
permainan, mengobrol kesana kemari, berghibah, bahkan -kadang terjadi- berjudi,
wal 'iyadzu billah.

5. Selain itu, ada juga kaum Muslimin yang menyambut bulan ini dengan dingin dan
tak bergairah. Kalau sudah berlalu, ia akan kegirangan. Mereka beribadah dan
berpuasa, semata-mata mengikuti kebiasaan manusia di sekitarnya.
Alangkah miripnya mereka dengan keadaan orang-orang muna_k yang memang
senang bermalas-malasan dalam ibadah. Allah as berfirman:


Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka [364]. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya [365] (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali [366]. (An-Nisa:142)

[364] MAKSUDNYA : ALAH MEMBIARKAN MEREKA DALAM PENGAKUAN BERIMAN, SEBAB ITU MEREKA DILAYANI SEBAGAI MELAYANI PARA MU'MIN. DALAM PADA ITU ALLAH TELAH MENYEDIAKAN NERAKA BUAT MEREKA SEBAGAI PEMBALASAN TIPUAN MEREKA ITU.
[365] RIYA IALAH : MELAKUKAN SESUATU AMAL TIDAK UNTUK KERIDHAAN ALLAH TETAPI UNTUK MENCARI PUJIAN ATAU POPULARITAS DI MASYARAKAT.
[366] MAKSUDNYA : MEREKA SEMBAHYANG HANYALAH SEKALI-SEKALI SAJA, YAITU BILA MEREKA BERADA DI HADAPAN ORANG.

Rasulullah juga bersabda, yang artinya:

"Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik
adalah shalat Isya dan Shubuh." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

6.Banyak di antara mereka yang begadang malam untuk hal-hal yang tidak
bermanfaat, sampai-sampai meninggalkan subuh berjama'ah. Padahal Rasulullah
bersabda:

"Tidak dibolehkah begadang itu melainkan bagi orang yang shalat
(malam), atau musa_r." 13 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3421, 4023) dan Imam Suyuthi dalam Al-Jami' Ash-Shaghir,dan beliau mengisyaratkannya sebagai hadits hasan.


7. Sebagian di antara mereka menghindari diri dari berbagai pembatal shaum; seperti
makan, minum, berjima' dan lain-lain. Tetapi mereka tak berusaha menghindari
hal-hal yang dapat membatalkan pahala shaum; seperti bebas melihat aurat wanita
di jalan-jalan (bahkan terkadang menjadi kebiasaan sehabis shubuh dan menjelang
berbuka), atau di majalah-majalah, berghibah, mencaci-maki orang dan lain
sebagainya.
8. Suka berdusta Ada sebagian kaum Muslimin yang menganggap ringan berkata
dusta, termasuk di bulan suci Ramadhan, di kala bershaum. Padahal Rasulullah
pernah bersabda:
"Barangsiapa yang tidak juga meninggalkan berkata-kata dusta dan
masih juga melakukannya (di kala bershaum), maka Allah tak sedikitpun
sudi menerima ibadah shaumnya, meski ia meninggalkan makan dan
minum." 14 HR. AI-Bukhari kitab: Ash-Shaum 1770, 5597 dengan lafadz:
Barangsiapa yang belum meninggalkan perkataan dusta, mengerjakannya dan masa bodoh
dengannya...

9. Satu hal yang aneh, namun benar-benar sering terjadi; seseorang bershaum, tapi
tidak shalat. Atau terkadang ada yang rajin shalat, tapi selalu beralasan tidak
kuat bershaum. Padahal sungguh tidak ada manfaat orang itu bershaum kalau dia
tidak shalat. Karena shalat adalah pilar dien/agama Islam.
10. Ada juga sebagian kaum elit di kalangam Muslimin yang sengaja bersafar
terkadang keluar negeri agar mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Padahal
Allah Maha Mengetahui apa yang terbetik dalam hati hamba-Nya.
11. Sebagian kaum Muslimin, ada yang berbuka shaum dengan mengkonsumsi sesuatu
yang haram. Terkadang minuman keras, rokok (itu banyak terjadi), serta makanan
dan minuman yang didapat dan usaha yang haram.
Selain itu, beliau juga menyebutkan beberapa hal lain yang layak diperhatikan.
Dan juga masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dilakukan sebagian
kaum Muslimin dalam melakukan ibadah shaum.
Terkadang, bahkan merusak bingkai kerja dari shaum itu sendiri; yaitu menahan
diri dan makan dan minum. Bentuknya? Dengan mengumbar nafsu makan dan
10
minum tatkala berbuka shaum. Ibnu Taimiyyah mengungkapkan penafsiran yang
bagus tentang hadits nabi :
"Sesungguhnya setan itu mengalir dalam tubuh manusia mengikuti aliran darah."
15 (Diriwayatkan oleh Ahmad (12132, 13631), Al-Bukhari kitab A1-I'tikaf (1897), kitab: Bad'ul kholq
(3039) dan kitab; Al-Adab (6761) dan Muslim kitab: As-Salam (4040) dari hadits Anas bin Malik
dan Sha_yyah binti Huyay, juga oleh Abu Dawud kitab: Al-Adab (4243), At-Tirmidzi kitab:
Ar-Radha' (1092) Ibnu Majah kitab: Ash-Shiyam (1769) dan ini lafadznya.)

Beliau berkata:

"Orang yang shaum dilarang makan dan minum karena keduanya adalah
sebab tubuh itu menjadi kuat. Dan makanan dan minum itulah yang
dapat menghasilkan banyak darah, tempat di mina setan ikut berjalan
mengaliri tubuh manusia. Sesungguhnya darah yang di telusupi setan
itu memang berasal dan makanan dan minuman, bukan dan suntikan
atau faktor keturunan." 16 (Lihat Haqiqatu ash-shiyam - oleh Ibnu Taimiyyah.)


4 Manfaat-Manfaat Ibadah Shaum
Syaikh Ali Hasan dalam "kitabu Ash-Shiyam" menuturkan beberapa faedah shaum
berdasarkan keterangan dari beberapa hadits. Akan kami sebutkan di sini dengan
ringkas:

4.1 Shaum itu adalah perisai

Bagi mereka yang masih diamuk jiwa muda dan syahwat membara, namun masih belum
terbuka pintu menuju pelaminan; disyari'atkan baginya untuk mengekang keinginan
syahwatnya itu dengan berpuasa. Rasulullah bersabda, yang artinya:
"Wahai pemuda-pemudi, barangsiapa di antara kamu yang sudah memiliki
kemampuan seksualitas, hendaknya ia menikah. Karena menikah itu lebih
dapat memelihara pandangan dan kemaluan. Kalau ia belum mampu
menikah, hendaknya ia bershaum. Sesungguhnya shaum itu adalah obat
penawar gejolak syahwat."
Lebih khusus lagi Rasulullah juga bersabda yang artinya:

"Puasa itu ibarat perisai, ia akan menamengi seorang samba dari siksa
neraka." 17 Diriwayatkan oleh Ahmad 111/241.

Nah khusus di bulan Ramadhan, sebulan penuh seorang Muslim _akan diasah jiwanya
dengan shaum_ sehingga bisa terbentengi dari sergapan setan yang selalu memperalat
hawa nafsu untuk menjungkirkan seorang hamba ke jurang neraka. Tentu saja hal itu
utama bagi mereka yang berkeinginan _dengan puasanya_ untuk mencapai ketakwaan
kepada Allah.
4.2 Shaum adalah jalan menuju Jannah

Dari Umamah berkata: "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah aku satu amalan
yang akan menggiringku menuju Jannah." Beliau bersabda: "Lakukan shaum,
tak ada amalan yang setara dengannya." 18 Diriwayatkan oleh Nasa'i (1V/165), Ibnu Hibban (hal. 232 - Mauridu Adz-Dzam'an) dan Al-
Hakim (1/421).

4.3 Shaum dapat menjadi perantara turunnya syafa’at

Rasulullah bersabda, yang artinya:
"Shaum dan al-Qur'an akan memberi syafat kepada seorang hamba
di hari kiamat nanti. Sang shaum berkata: "Ya Allah, aku telah
menghalanginya makan dan mengumbar nafsu, jadikanlah aku perantara
untuk menyampaikan syafa'at-Mu kepadanya. 19 Diriwayatkan oleh Ahmad: 6626, Al-Hakim: U 54 dan lain-lain dari hadits Abdullah bin Amru.

4.4 Dua saat kebahagiaan bagi orang yang bershaum
Nabi bersabda:
"Orang yang bershaum memiliki dua saat-saat penuh kebahagiaan: kala ia
berbuka, dan, di saat ia menjumpai Rabb-nya (selepas hidup di dunia). 20
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Ash-Shaum.

4.5 Pintu Rayyan di Jannah (surga), bagi kaum yang bershaum
Dari Sahal bin Sa'ad, dari Nabi bahwasanya beliau bersabda, yang artinya:
"Sesungguhnya di Jannah kelak, ada pintu yang bernama Rayyan. Dari
situlah kaum yang bershaum akan masuk Jannah di hari kiamat. Tak
seorangpun kecuali mereka yang akan memasukinya. Bila orang terakhir
di antara mereka telah masuk, pintu segera ditutup; dan barangsiapa (di
antara yang masuk) meminum sedikit airnya, niscaya ia tak akan dahaga
selamanya." 21 Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (4/95), Muslim (1152). Sedikit tambahan dibagian akhir hadits
berasal dari Shahih Khuzaimah (1903).



Allah-lah Pencipta segala kebahagiaan, kepada-Nyalah' kembali akhir kehidupan.
Selayaknya kita menyambut bulan yang penuh berkah dengan penuh gairah dan
kegembiraan. Di sanalah, dan dari sanalah kita akan beranjak _dengan tau_ Sang
Maha Rahman_ menuju Jannah-Nya yang penuh kebahagiaan.

0 komentar: